Selasa, 11 Oktober 2016

[Review Film] Train to Busan


Awal mula film ini menampilkan upaya pembersihan truk agar terbebas virus yang berasal dari kebocoran perusahaan. Hingga selesai pembersihan dan diperjalanan, truk menabrak dan menggilas rusa. Anehnya saat truk menjauh, rusa kembali hidup dengan bola mata putih.
***
Menceritakan tentang pasca perceraian Seok-woo dengan istrinya. Mengakibatkan Soo-an merasa kesepian meski diasuh oleh ibu Seok-woo. Di hari ulang tahunnya, Seok-woo selalu berjanji pada Soo-an dan melimpahkannya hadiah canggih. Hingga suatu hari, Soo-an meminta ke Busan dan dengan berat hati Seok-woo melakukannya. Meninggalkan pekerjaan sementara waktu.
Konflik pun dimulai saat perjalanan menuju Busan. Soo-an sudah merasa aneh sejak kereta mulai bergerak berjalan. Tidak butuh waktu lama, penularan virus zombie pun dimulai. Hingga hampir 60% penumpang kereta terinfeksi dan menurut pusat KTX, kereta yang dinaiki akan berhenti di stasiun Daejeon dan dikabarkan ada pihak militer yang menjemput.
Di luar dugaan justru semua pihak militer sudah terinfeksi. Disinilah perubahan sikap Seok-woo yang awalnya egois menjadi baik. Ketika sepasang suami istri menyelamatkan Soo-an. Untuk membalas kebaikannya, Seok-woo pun melakukan kebaikan juga. Hingga di akhir film, semua orang melakukan pengorbanan dengan cara masing-masing.

Beberapa pemain utama bener-bener mendalami peran dan feelnya itu berasa.
Tapi, sayangnya kurang sekali penjelasan apa penyebab utama bisa ada penyebaran virus selain karena kebocoran. Dan bagaimana selamat dari zombie selain menetap di satu kota. Film ini lebih mengutamakan drama dibanding aksi. Karena, Korea memang terkenal dengan dramanya yang bikin menye-menye. At last not least, film ini mengajarkan banyak pelajaran berharga. Tentang kasih sayang, pengorbanan dan bersifat kemanusiaan dengan menolong orang lain. Penutup manis, dengan lagu Aloha 'Oe yang dinyanyikan oleh Soo-an.
Mengingatkan kita bahwa sifat egois manusia lebih sadis dibanding zombie (deadman walking)